<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://riged.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://riged.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Nov 2008 13:26:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='riged.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://riged.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://riged.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://riged.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Audisi ++ Graduation</title>
		<link>http://riged.wordpress.com/2008/11/14/audisi-graduation/</link>
		<comments>http://riged.wordpress.com/2008/11/14/audisi-graduation/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 13:26:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rigedblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riged.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Ada sedih, dan ada senang. Di dunia pop Jepang. Sedih lebih didahulukan dibanding kesenangan. Ini omongan sia-sia yang tak ada bukti jelas. Di TV wajah para bintang boleh jadi menangis, hatinya siapa tahu. Tapi dunia pop Jepang punya sesuatu yang &#8230; <a href="http://riged.wordpress.com/2008/11/14/audisi-graduation/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=92&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada sedih, dan ada senang. Di dunia pop Jepang. Sedih lebih didahulukan dibanding kesenangan. Ini omongan sia-sia yang tak ada bukti jelas. Di TV wajah para bintang boleh jadi menangis, hatinya siapa tahu. Tapi dunia pop Jepang punya sesuatu yang ingin beda. Untuk mereka konsep belakang dan depan panggung hanya nama, on air atau off air akan selalu entertain.</p>
<p>Kimura Ayaka, vokalis Coconut Musume, pernah bikin konsep di Hello Morning. &#8216;English Suprise Lessons&#8217;, formatnya gampang. Kageti setiap anggota Hello!Morning (TV-Tokyo), pada saat off air dan berikan pelajaran bahasa Inggris dadakan. Para korban mau tidak mau harus mau tampil tanpa konsep, dan menjadi dirinya sendiri. Sehingga pernah, kali ini Ayaka menjadi korban, Tsuji Nozomi vokalis W, pernah menjebak Ayaka ketika sedang berbincang serius dengan produser-nya. Tsuji dengan menculik seorang kameramen membuat konsep khusus untuk Ayaka, &#8216;Nono Dance Lessons&#8217;. Ayaka diminta berdansa mengikuti tari Ondo yang kocak. Ayaka tidak siap tapi apa boleh buat.</p>
<p>Yang lebih ganjil, Okamura Takashi, komedian pengisi TV Komedi Mecha-mecha Ikiteru. Dalam salah satu episode Mecha-mecha Ikiteru edisi Natal, mereka berkomplot dengan produser Morning Musume, Tsunku untuk menjebak setiap anggota Morning Musume, IKUT UJIAN SEKOLAH (tingkatnya SMU), dan menentukan siapa Anggota Morning Musume yang paling idiot (Bakajo Kimatsu Test). Mereka dijebak dalam plot hendak diikutkan dalam acara promosi produk Quidam. Tapi mengutip Okamura yang berperan sebagai guru killer.</p>
<p>&#8220;QUIDAM tidak akan datang. Quidam punya jalan sendiri! Lupakan Quidam.&#8221;  Yup Quidam tidak pernah datang. Mereka digiring dalam ruang tunggu yang mirip kelas. Dipaksa memakai baju sekolah. Dan dilarang untuk menangis.</p>
<p>Mau tak mau. Setiap anggota Momusu yang kebingungan, jadi tetap bingung sampai acara selesai. Dalam acara itu. Konno Asami menjadi anggota Momusu yang paling pintar. Sementara ratu Idiot disematkan kepada Tsuji Nozomi. Sial untuk Tsuji. Selamanya dia dikenal di antara generasi Momusu, menjadi anggota paling bodoh.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riged.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riged.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riged.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riged.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riged.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riged.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riged.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riged.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riged.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riged.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riged.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riged.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riged.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riged.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=92&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riged.wordpress.com/2008/11/14/audisi-graduation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f44ac7ca400a392236a29f75f03e67c5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rigedblue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agama Abad 21: Akhir dari Kemanusiaan</title>
		<link>http://riged.wordpress.com/2008/11/14/agama-abad-21-akhir-dari-kemanusiaan/</link>
		<comments>http://riged.wordpress.com/2008/11/14/agama-abad-21-akhir-dari-kemanusiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 02:52:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rigedblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[Postmodernism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riged.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Postmodern Belum Selesai Jika anda ucapkan judul diatas kepada Marylin Monroe tentunya dia akan segera membukakan bra-nya. Karena terkejut atas kata-kata yang dihuni secara semiotik oleh jiwa kejut. itu Ultimasi kata postmodernisme terkadang menjebak sebagian orang untuk bergegas-gegas ria, melakukan &#8230; <a href="http://riged.wordpress.com/2008/11/14/agama-abad-21-akhir-dari-kemanusiaan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=85&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Postmodern Belum Selesai </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/duncanlong40.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-86" title="duncanlong40" src="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/duncanlong40.jpg?w=300&#038;h=225" alt="duncanlong40" width="300" height="225" /></a>Jika anda ucapkan judul diatas kepada Marylin Monroe tentunya dia akan segera membukakan bra-nya. Karena terkejut atas kata-kata yang dihuni secara semiotik oleh jiwa kejut. itu Ultimasi kata postmodernisme terkadang menjebak sebagian orang untuk bergegas-gegas ria, melakukan selebrasi dini sampai kaca pecah, pintu rubuh, sepeda tidak berpentil, dan jemuran lupa di angkat – hal-hal yang secara keseharian penting dilupakan sejenak. Perhatian dipusatkan pada ruang dan waktu yang sangat imajinatif, artifisial dan begitulah kebanyakan sejarah dibentuk. Revolusi posmo adalah ruh zaman (zeitgeist) yang bentuknya paling rumit dan menggemaskan. Kedatangannya tidak pernah sempurna dan sesuai dengan cetak biru pembuatannya. Seperti membikin rumah bordil dekat rumah ibadah, pertentangan tidak akan habis –keuntungan<span> </span>dari pertentangan itu tidak seberapa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jika sejarah dipandang sebagai simplifikasi kategoris kepada pihak menang dan kalah. Maka sejarah telah gagal memberi kerangka masa depan yang melibatkan semua pihak terkait. Dalam bahasa William Shakespeare :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kenyataan di bumi dan langit lebih luas dari mimpi-mimpi filosofis kita.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Atheis Bersorban vs Atheis Berdasi vs Atheis Bertoga</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Walau pada kenyataannya dunia manusia lebih sempit dari bumi dan langit yang menampungnya. Maka sungguh bedebah orang yang memperkenalkan riwayat idealisme ke dunia manusia yang sempit ini. Memaksakan orang untuk bangun pagi dan merasai sebentuk mimpi filosofis. Menakdirkan renjana, cangkir, mangkuk, dan deposito sebagai bentuk in absentia yang dimitoskan (padahal benda-benda itu nyata). Dunia menjadi simulacra, orang semakin tidak nyaman bicara tanpa mengutip, menyisip, atau meminta sirap dari hal-hal yang serba dekat dengan dirinya -seperti Tuhan misalnya. Di abad-21 proses itu berubah sontak menjadi lelucon yang tidak lucu. Bak Pepatah gajah dan semut. Gajah tidak tampak dipelupuk mata, karena sejak awal dia diposisikan menindih kita sampai kita tewas, sementara sang semut semakin tidak merasa penting dia dilihat atau tidak (wong semut kok). Agama sebagai sesuatu yang di gajahkan dalam pepatah di atas. Sudah tidak bisa lagi menampung &#8220;Ketuhanan&#8221; sebagaimana adanya atau sebagaimana seharusnya.: intim  dan penuh cinta. Agama para manusia, lebih termanipulasi ada bentuk agamanya dan bukan manusianya. Richad Dawkins menamai gejala ini sebagai atheisme juga. Atheisme ini mengadopsi pandangan tentang rencana elit agama, memisahkan sign dari signifier-nya, memisahkan ritus dengan esensi, menjadikan icon tanpa konteks, sejatinya agama tidak ada beda dengan korek api bekas pakai. Hal yang meneguhkan &#8220;keatheisan&#8221; Dawkins dan pilihan untuk menunggu penjelasan lebih tepat tentang situasi manusia tanpa melibatkan Tuhan, adalah sebentuk kritik yang harus dicermati. Pertarungan ideologi di abad 21 ini ternyata mengetengahkan lakon konyol Atheis Bersorban vs Atheis Berdasi vs Atheis Bertoga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riged.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riged.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riged.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riged.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riged.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riged.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riged.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riged.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riged.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riged.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riged.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riged.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riged.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riged.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=85&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riged.wordpress.com/2008/11/14/agama-abad-21-akhir-dari-kemanusiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f44ac7ca400a392236a29f75f03e67c5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rigedblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/duncanlong40.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">duncanlong40</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Media Masssa dan Postkolonial</title>
		<link>http://riged.wordpress.com/2008/11/12/media-masssa-dan-postkolonial/</link>
		<comments>http://riged.wordpress.com/2008/11/12/media-masssa-dan-postkolonial/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 10:15:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rigedblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[Postcolonial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riged.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Olahraga adalah suatu produk budaya. Sepak bola salah satunya. Sesuatu yang sederhana bisa me-raksasa dan menjadikan manusia –bahkan milliyaran manusia sejenak terpaku. Dimana? dimana lagi kalau bukan di televisi. <a href="http://riged.wordpress.com/2008/11/12/media-masssa-dan-postkolonial/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=46&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p><!--[endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoEndnoteText, li.MsoEndnoteText, div.MsoEndnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:11.35pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:-11.35pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-list:l0 level1 lfo1; 	tab-stops:list 8.5pt; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUARAM~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUARAM~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUARAM~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/SUARAM~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1282834288; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1659744744 1227506058 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-style-link:"Endnote Text"; 	mso-level-tab-stop:8.5pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:11.35pt; 	text-indent:-11.35pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:1.0in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:1.5in; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level4 	{mso-level-tab-stop:2.0in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:2.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:3.0in; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level7 	{mso-level-tab-stop:3.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:4.0in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:4.5in; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/baud_poster.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-48" title="baud_poster" src="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/baud_poster.jpg?w=224&#038;h=300" alt="baud_poster" width="224" height="300" /></a>Suatu ketika, kita tidak mengenal budaya seperti apa yang tampak sebelumnya. Kita tahu bola itu ditendang-tendang dari kaki ke kaki di lapangan rumput belakang kelurahan. Yang belum kita tahu adalah sesuatu itu disebut sepak bola sebelumnya. Kita mempelajari “budaya sepak bola”, perlahan dan kemudian kita tidak tahu lagi dimana posisi kita dalam budaya “raksasa”<span> </span>itu. Perhatikanlah sepakbola: Aturan permainannya, ada wasit, hakim garis, gol, pelanggaran, kartu merah, taktik, pelatih, pemain, penonton, tim medis, satuan pengamanan, tribun VIP, komentator, nilai transfer, hak siar, siaran langsung, siaran tunda, stadion, roteiro, fevernova, FIFA, Piala Dunia, kehormatan bangsa, adu penalti, gol emas, babak tambahan, injury time, cedera hamstring, achiles tendon, liga nasional, divisi satu, tulang metarsal, enam minggu pemulihan, selebritis lapangan, seratus persen fit, penyerang tunggal, gelandang bertahan, bek sayap, skill individu, influence, passing, rotasi pemain, set pieces, freekick, human wall, supersub, umpan lambung, tendangan chip in, Qitas, dan ratusan istilah lain yang berkaitan dengan permainan itu. Membuat kita tersesat entah dimana dalam permainan simbol-simbol sepak bola.<span id="more-46"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Olahraga adalah suatu produk budaya. Sepak bola salah satunya. Sesuatu yang sederhana bisa me-raksasa dan menjadikan manusia –bahkan milliyaran manusia sejenak terpaku. Dimana? dimana lagi kalau bukan di televisi. Dan di perpanjang oleh media lainnya. Televisi hanya menyajikan permainannya, pembahasan startegi, taktik, simulasi, semuanya dirangkum oleh media massa lain: koran, tabloid, internet, postcard, majalah, bahkan game. Kini, dengan bantuan media –bukan sepakbolanya yang menarik untuk dimainkan, tapi hal-hal selainnya yang sebenarnya bukan bagian dari esensi permainan sepak bola. Apa yang hendak penulis maksudkan? Media massa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Media massa membuat wilayah periferal menjadi penting. Dengan kemampuan memanipulasi, dan kedekatan dengan khalayaknya, media menjadikan hal yang tidak esensial menjadi lebih penting dari esensi, dan layak untuk dikonsumsi. Sepak bola bukan sepak bola lagi, tapi sesuatu yang berkaitan dengannya. Musik bukan musik lagi, tapi sesuatu yang berhubungan dengan musik, politik bukan politik lagi tapi sesuatu yang berhubungan dengan politik, agama bukan agama lagi, tapi sesuatu yang berkaitan dengan agama. Ini yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai hiperrealitas obyek. Semuanya di konsumsi –diembat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Dengan demikian permainan tanda yang berpotensi menjadi tidak terbatas dilembagakan&#8230;memberikan pada individu rasa kebebasan yang ilusif.”<a name="_ednref1" href="#_edn1"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[i]</span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk tujuan apa? Ya pemenuhan hasrat. Karena ini mengacu dengan benda atau obyek. Ingat ini adalah produk budaya massa, yang tidak sakral lagi dan tidak butuh pembakaran kemenyan untuknya. Lebih dari itu, obyek dan tanda itu semakin dirasakan penting.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“&#8230;Pelembagaan tersebut menata masyarakat&#8230;Baudrillard percaya bahwa melalui obyeklah individu menemukan posisinya dalam tatanan. Dengan demikian fungsi komoditas lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan individu, tetapi juga menghubungkan individu dengan tatanan sosial.” <a name="_ednref2" href="#_edn2"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[ii]</span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Betapa galaknya pernyataan di atas. Status dan identitas sosial manusia tergantung atas obyek yang dikonsumsinya. Itulah alasannya mengapa khalayak sulit melepaskan diri dari media massa. Selagi media itu masih menyajikan obyek-obyek yang akan menjadi landasannya untuk “gaul” atau “eksis” media massa tidak akan pernah ditinggalkan. Dan media pun tidak bodoh untuk tidak melakukan covering terhadap obyek yang dimaksud –meskipun itu mengabaikan esensi. Jalinan chaotik itu membuka jalan bagi masuknya hal-hal baru. Tidak ada lagi kontrol dan filter untuk media –bukankah institusi kontrol dan filter pun menjadi bagian dari kerumitan. Ditambah kalimat bernada menyerah seperti ini: “Pertebal keimanan putra-putri kita dari tayangan yang merusak.” Semakin menyerah lagi: “Ambil yang baik dan buang yang buruk.” Dan hancur di balik kalimat ini: “Sudahkah anda membayar iuran televisi.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Meminjam bahasa John Storey kerumitan itu sudah tidak rumit lagi. Semuanya jelas –mengabur, wong hiperrealitas dan simulatif. Dan hubungan antara obyek, media massa dan manusia sudah tersusun skrenarionya:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Wah mirip Disneyland..” <a name="_ednref3" href="#_edn3"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[iii]</span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/jean-baudrillard.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-47 alignleft" title="jean-baudrillard" src="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/jean-baudrillard.jpg?w=94&#038;h=96" alt="jean-baudrillard" width="94" height="96" /></a>Ya, jelas mirip Disneyland. Baudrillard sendiri memberikan anggapan tentang Disneyland, ia menyebutnya sebagai “contoh sempurna dari semua yang berasal dari aturan-aturan simulasi.”<a name="_ednref4" href="#_edn4"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[iv]</span><!--[endif]--></span></a> Media memiliki jalan pikiran tersendiri untuk merumuskan keberadaannya di masyarakat. Media memilihi tokoh sendiri, pahlawan, politik, penjahat, korban, perang, ekonomi dan hal-hal makrokospik yang dihadapi negara-negara besar dewasa ini. Yang menakjubkan media memiliki spot time yang lebih banyak dari para pejabat-pejabat politik di suatu negara, lebih akrab dari para orator-orator kampanye –dan disadari atau tidak, justru media telah mengusai ruang<span> </span>operasi politik kebangsaan suatu negara, termasuk dalam hal-hal remeh seperti menyanyinya presiden terpilih Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada acara AFI 2, Buset.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Media massa tidak lain telah menjadi bagian penting dari peletakan dasar-dasar postkolonialisme anti dekolonialisasi, penyebaran gagasannya, perluasan ruang lingkupnya, dan penambahan makna serta imbuhan dibaliknya. Ketika media membicarakan posisinya sebagai negara ke empat, fungsi anjing penjaga, elemen aktif demokratisasi. Tentunya kita membicarakan ideologi negara sebagai piranti vis a vis media, demi debat publik, demi demokratisasi dan liberalisasi, demi kemakmuran negara dan daya beli masyarakat yang tinggi. Tidak ada yang hebat dari deretan kalimat itu kecuali kapitalisme terselubung dari media massa, yang putaran utamanya dari Barat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Seperti menjamin para pemilik media massa bersantai dengan para gadis ranum di kubangan jacuzzi, mengangkat-angkat gelas bersama politikus disebelahnya, dan bicara tentang masa depan nasionalisme suatu bangsa. Kehadiran media massa dan penerimaan masyarakat pada model begitu, kian mencabut akar kemerdekaan suatu bangsa ketika mereka merumuskannya. Independensi beririsan dengan tingkat tiras atawa rating, berita buruk adalah yang paling laku, dan media bermuka pop, untuk remajanya media yang –kebangetan boysbands merajalela.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ini sering digambarkan sebagai dilemanya negara dunia ketiga<a name="_ednref5" href="#_edn5"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[v]</span><!--[endif]--></span></a>. Nah lho. Julukan yang entah darimana juntrungannya kok disalahkan. Dunia ketiga, seketat apapun<span> </span>penelitian dan pengukuhan akademis terhadap istilah itu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan cita-cita suatu bangsa untuk berdaulat diatas kaki sendiri,<span> </span>merumuskan budayanya secara mandiri, mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, menggantikan jeans Austin Texas dengan sarung Magelang, boot Manchester dengan selop dari Cibaduyut, pet bergambar Newyork Yankees dengan caping buatan Tanah Abang</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menyembunyikan diri dalam stereotip para orientalis tentang kebangsaan dan luas wilayah suatu negara. Sama saja dengan mendengarkan ocehan mereka tentang bangsa jajahan yang dari sononya savage (liar). Lalu menyembunyikannya dibalik kemegahan istilah akulturasi dan invensi, bentukan hibrid suatu bangsa adalah yang paling benar. Setidaknya begitulah media memberitahukannya kepada kita.</p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn1" href="#_ednref1"></a>Ibid hal 16</p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn2" href="#_ednref2"></a>Ibid</p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn3" href="#_ednref3"></a>John Storey. Op cit.<span> </span>2003:245</p>
</div>
<div id="edn4">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn4" href="#_ednref4"></a>Ibid</p>
</div>
<div id="edn5">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn5" href="#_ednref5"></a>Dilema Negara dunia ketiga. Pemaksaan simbolik suatu Negara terhadap Negara lain berdasarkan income perkapita, tingkat pertumbuhan ekonomi, taraf hidup rakyatnya, pendidikan<span> </span>dan kemampuan teknologi Negara tersebut.<span> </span>Sehingga Negara tersebut layak untuk diawasi secara finansial oleh kebijakan moneter Perserikatan Bangsa-Bangsa, keberlangsungan politik pemerintahannya di awasi untuk mencapai kondisi yang disebut dengan <em>Good Governance</em>. Sentimen ini berawal dari keterputusan jarak dan sejarah para pelancong Eropa ke negeri-negeri timur, kesulitan untuk beradaptasi dengan sifat ketimuran yang lebih mistis dibanding Eropa yang mekanis, membuat mereka menginginkan tempat indah dan eksotis semacam timur itu semakin diperindah dengan mengadopsi budaya Eropa –lihat <em>Orientalisme</em>, Edward W. Said 1978:1-7.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--></p>
</div>
</div>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:200%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	font-weight:bold;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1862819962; 	mso-list-template-ids:-226349718;} @list l0:level1 	{mso-level-start-at:2; 	mso-level-text:%1; 	mso-level-tab-stop:21.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:21.0pt; 	text-indent:-21.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level2 	{mso-level-start-at:5; 	mso-level-text:"%1\.%2"; 	mso-level-tab-stop:21.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:21.0pt; 	text-indent:-21.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level3 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3"; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.5in; 	text-indent:-.5in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level4 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4"; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.5in; 	text-indent:-.5in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level5 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5"; 	mso-level-tab-stop:.75in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.75in; 	text-indent:-.75in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level6 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6"; 	mso-level-tab-stop:.75in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.75in; 	text-indent:-.75in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level7 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7"; 	mso-level-tab-stop:1.0in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:1.0in; 	text-indent:-1.0in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level8 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8"; 	mso-level-tab-stop:1.0in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:1.0in; 	text-indent:-1.0in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level9 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9"; 	mso-level-tab-stop:1.25in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:1.25in; 	text-indent:-1.25in; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:21pt;text-indent:-21pt;line-height:normal;"><!--[if !supportLists]--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riged.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riged.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riged.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riged.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riged.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riged.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riged.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riged.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riged.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riged.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riged.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riged.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riged.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riged.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=46&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riged.wordpress.com/2008/11/12/media-masssa-dan-postkolonial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f44ac7ca400a392236a29f75f03e67c5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rigedblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/baud_poster.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">baud_poster</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/jean-baudrillard.jpg?w=94" medium="image">
			<media:title type="html">jean-baudrillard</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Identitas Budaya Manusia Indonesia</title>
		<link>http://riged.wordpress.com/2008/11/12/identitas-budaya-manusia-indonesia/</link>
		<comments>http://riged.wordpress.com/2008/11/12/identitas-budaya-manusia-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 09:48:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rigedblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[Postcolonial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riged.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Perang dunia kedua bukan hanya menyediakan keruntuhan dari kolonialisme. Tetapi kenyataan bahwa reruntuhannya ikut menimpa dan merusak para pribumi yang terkoloni. Mereka menjerit. Sampai sekarang pun mereka masih menjerit. Bekerja dengan rintihan, beranak-pinak dengan keluhan, membuat pemilu dengan cemoohan, mengangkat &#8230; <a href="http://riged.wordpress.com/2008/11/12/identitas-budaya-manusia-indonesia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=38&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;" lang="IN"><a href="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/indonesia_overview_map.gif"><img class="size-medium wp-image-39 alignleft" title="indonesia_overview_map" src="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/indonesia_overview_map.gif?w=269&#038;h=300" alt="indonesia_overview_map" width="269" height="300" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perang dunia kedua bukan hanya menyediakan keruntuhan dari kolonialisme. Tetapi kenyataan bahwa reruntuhannya ikut menimpa dan merusak para pribumi yang terkoloni. Mereka menjerit. Sampai sekarang pun mereka masih menjerit. Bekerja dengan rintihan, beranak-pinak dengan keluhan, membuat pemilu dengan cemoohan, mengangkat presiden dengan gerutu, terkena krisis ekonomi dan kembali menjerit. Untuk selanjutnya ucapan yang benar yang tidak sekadar rintihan di negara bekas jajahan kepada negara bekas penjajah adalah protes, kritik, dan menuntut –lagipula kalau tidak salah ketiga frase itu mengandung emosi: Marah.<span id="more-38"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lalu dikemanakan ungkapan oposisi dari kemarahan itu? seperti; pembangunan, kerjasama regional, globalisasi, akulturasi budaya, keterbukaan, “the world are small village”,<span> </span>kesepakatan, letter of intent, jaminan demokrasi, dan demokrasi itu sendiri. Adalah fakta bahwa yang tampak saat ini di sekeliling kita adalah oposisi dari sikap menentang neokolonial. Oposisi dari bicara tidak sekedar merintih versi Frantz Fanon. Tidak semata dari menangis dan mengeluh, memilih suatu ideologi dan cara cari makan dengan bangsa sendiri atau dengan bangsa lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Adalah fakta juga bahwa di negara Indonesia ini, demokrasi yang diterapkan itu buku teks aslinya berasal dari Barat. Standar penggunaannya bahkan diawasi oleh mereka dengan berbagai macam nama komisi yang dibelakangnya disematkan kata internasional. Dilegalkan secara masal di Dewan Negara-Negara yang sialnya dikuasai oleh negara pemilik hak veto. Ketika standar yang bernama demokrasi itu berjalan, tidak dengan manusia Indonesianya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Demokrasi di negara ini hanya menitipkan suara: sejenis kertas yang dicoblos dengan memanipulasi kedekatan ideologis, dan tidak menitipkan harapan dan keinginan dari bangsa yang lelah diperas selama 350 tahun dijajah. Saya ulang lagi saja kutipan di halaman 23 penelitian ini. “Bangsa Kuli” tulis Sri Edi Swasono.<a name="_ednref1" href="#_edn1"><span>&lt;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&gt;<span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[i]</span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Soekarno-Hatta sering mengutip ucapan Heffreich bahwa Indonesia adalah bangsa kuli dibawah bangsa-bangsa lain –eine nation von kuli und kuli unterden natione- kadang-kadang kita dramatisasi sendiri sebagai het zachtste volkter aarde, een koeli onder de volkeren, sebagai suatu julukan buat keirlanderan (pribumi yang bodoh) bangsa kita. Hatta menyebut hal ini sebagai “kerusakan sosial” akibat penindasan VOC, cultuurstelsel, dan kebengisan dalam pelaksanaan agrarische Wet 1870.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menjadi kuli? Lebih-lebih yang menyebutnya orang asing. Pertanyaannya apakah manusia Indonesia merdeka dan berdemokrasi itu hanya untuk –setelah setengah abad lebih- disebut sebagai<span> </span>eine nation von kuli und kuli unterden natione? Setiap generasi, haruskah menerima karakter genalogis semacam itu. Setelah masa postkolonial, remaja postkolonial adalah mereka yang semacam apa?. Muchtar Lubis memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi seperti apa remaja postkolonial, bagian dari manusia Indonesia yang katanya “het zachtste volkter aarde, een koeli onder de volkeren” itu –meminjam catatan sahabatnya, seorang psikiater yang selalu mencatat ucapan pasiennya yang kebanyakan remaja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Bukan tanggungjawab saya, salah dia sendiri, bukan salah orangtua, istri tidak punya perhatian pada anak-anak kami, bapak tidak pernah ada di rumah, curiga saja, tidak ada kepercayaaan pada anak, anak bandel, tidak mau dengar nasihat orang tua, mau bersenang-senag saja, malas belajar, melawan guru, cepat menyerah, tidak tekun, tidak gigih, ingin maju tapi dengan gampang saja, tidak tahu mau jadi apa, terserah mama dan papa saja, ada doku semua beres, fasilitas dong! cepat rasa puas, itu kan hak saya! peduli amat sama orang lain, tidak boleh kalah dong! ya nggak mau kalah dong! kewajiban? Mengapa itu jadi kewajiban saya sendiri? bapak/ibu juga harus berkewajiban yang sama! cepat tersinggung soalnya tidak ada uang, teman-teman juga angkanya jelek tidak dimarahi bapak dan ibu mereka, kok saya di tekan terus? Anak orang lain diantar dengan mobil ke sekolah, saya mesti naik bis, mama dan papa sudah tidak bisa diajak omong, orang tua gampang ngomong, sendirinya bagaimana? kalau kita dilarang tapi mama sendiri melakukan, saya sih mau sekolah, tapi jangan paksa-paksa dong! mama dan papa taunya cuma kasi duit saja, tapi tidak ada waktu buat kita, teman-teman pakansi ke Amerika atau Jepang dan Eropa, kita terus saja di rumah, bosan-bosan, banyak teman tapi maunya hanya bersenang-senang saja, hari depan? apa itu hari depan? –santai-santai sajalah—ngapain ngerepotin diri? pokoknya mau tahu beres, jangan pikirkan yang berat-berat nanti mumet sendiri, kalau susah siapa yang tolong? itukan maunya bapak, maunya saya tidak ditanya, bapak larang saya begini begitu, tapi saya lihat bapak berbuat begini begitu, solidaritas? nggak ngerti, kejujuran? oom bilang, siapa yang mau jujur sekarang mati sendiri, hukum? kakak bilang hakim dapat disogok, keadilan? lelucon tak lucu, kerja keras? buat apa? cinta sedap juga, tapi lama-lama membosankan, kalau aku jadi pembesar, mau bikin apa? bikin senang diri dulu dong! rakyat? siapa rakyat? oh, kan masing-masing cari hidup sendiri-sendiri? Memang begitu kan hidup di dunia ini, ada yang senang, ada yang susah, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang kuasa, mau apa lagi? semuanya juga nasib barangkali, Tuhan? Saya tidak tahu maunya Tuhan apa? ibu punya pacar, bapak punya pacar, saya juga punya pacar&#8230;”</em><span><em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Apakah ini merupakan gambar kejiwaan banyak orang Indonesia?” tanya Muchtar Lubis, “Penuh kebimbangan, penuh sinisme, banyak egoisme, disorientasi budaya, skeptis, munafik..” Tambahnya,<a name="_ednref2" href="#_edn2"><span>&lt;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&gt;<span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[ii]</span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;</span></a><span> </span>kembali meminjam Jacques Lacan, dalam ketidakberhinggaan pencerminan diri (infinty of refflection)<a name="_ednref3" href="#_edn3"><span>&lt;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&gt;<span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[iii]</span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;</span></a>, manusia Indonesia melihat identitas sendiri yang tenggelam dalam banyak hal,<span> </span>dan terpana melihat identitas lain yang lebih gemerlap. Identitas lain itu dibutuhkan untuk menstabilkan identitasnya. Jika para sosiolog berkeras menyebut proses itu sebagai akulturasi dan identifikasi, sebagiannya benar dan sebagiannya lagi membutuhkan lebih banyak jawaban dari sekedar itu.<a name="_ednref4" href="#_edn4"><span>&lt;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&gt;<span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[iv]</span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;</span></a> Lantas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ini jebakan postkolonialisme. Identifikasi dalam bentuk yang sangat ekspansif dari identitas yang di tiru dan mengeliminir Identitas asalnya perlahan-lahan. Seperti halnya budaya massa yang tampak di tengah masyarakat Indonesia. Sangat sedikit budaya massa yang mengadopsi kebudayaan pribumi. Pemakaian sarung, kebaya, gelung, sanggul, pemakaian peci –lambang nasional, penayangan wayang pada waktu utama di televisi, tidak pernah ada bukan? musik gamelan, cokek, dan hal yang dulu sangat bernilai entertainment bagi bangsa ini tergantikan oleh beat rock, hip-hop,<span> </span>tarian kejang, disko. Gatrik dan karapan sapi berganti dengan basket dan formula satu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Identifikasi terhadap kulit permukaan itu menjelaskan banyak hal. Seperti apa persisnya identitas kultural orang Indonesia? Jika identifikasi isi mental manusia Indonesia itu direlasikan dengan identifikasi kulit permukaannya, sudah jelas -sangat jelas, bahwa imperialisme di Indonesia masih ada. Kolonialisme itu masih berdiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk alasan apakah kolonialisme masih mencengkeram Indonesia? Hannah Arendt seorang cendikiawan Yahudi –bangsa yang sebelum tahun 1946 tidak memiliki negara, menjelaskan bahwa penjajahan ada dalam diri manusia –dijajah atau menjajah- hanya sekedar peranan yang dapat bergantian. Motif yang lebih riil lagi karena benda fisik: uang, emas, wilayah kekuasaan, statistik penduduk, bukan patriotisme dan anggapan bahwa penyebrangan orang kulit putih ke tanah Asia untuk memberlakukan tatanan yang beradab kepada kaum barbar. Lalu bagaimana dengan patriotisme suatu bangsa itu? ungkapan Arendt mengutip Huebbe-Schleiden dan Cecilia Rhodes dibawah ini cukup sinis:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Patriotisme&#8230; paling nyata terwujud dalam usaha mencari uang. Dan bendera kebangsaan adalah “aset nasional.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lagipula penerapan patriotisme itu sangat memilukan bagi bangsa yang di jajah:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“..Maka Bismarck (Pemimpin Jerman-Prussia) pun, pada tahun 1871, menolak tawaran jajahan Perancis di Afrika untuk ditukar dengan Alsace-Lorraine (sekarang wilayah Perancis Timur), dan 20 tahun kemudian memperoleh Heligoland dari tangan Inggris untuk ditukar dengan Uganda, Zanzibar dan Vitu –dua kerajaan di tukar dengan sebuah bak mandi, begitu kata kaum imperialistik Jerman kepada Bismarck,..”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jika patriotisme bagi para penjajah itu adalah tukar menukar wilayah jajahan bagai melempar kartu dalam permainan Gaple, atau tidak lebih dari semacam daftar belanjaan, bagaimana dengan sikap pribumi?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Di setiap tempat di mana negara-kebangsaan muncul sebagai penjajah, bangkitlah kesadaran dan cita-cita rakyat terjajah untuk beradaulat sendiri.”<a name="_ednref5" href="#_edn5"><span>&lt;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&gt;<span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[v]</span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Nah, Di sinilah terdapat keterputusan sejarah itu, di sinilah postkolonialisme bermula. Suatu bangsa –seperti Indonesia, yang dahulu terdiri oleh suku-suku dengan pemerintahan feodalnya, menyerumpunkan diri dan membentuk suatu negara bangsa. Lalu berdirilah:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Nama<span> </span>: Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">TTL<span> </span>: Jakarta/17 Agustus 1945.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penjajah<span> </span>: Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Wilayah<span> </span>: Meliputi pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan sebagian Irian dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pendiri<span> </span>: Bangsa Indonesia diwakili Soekarno-Hatta</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bahasa<span> </span>: Indonesia</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mata Uang<span> </span>: Rupiah</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Secara konteks hanya sedikit bedanya dengan catatan biasa seorang anak ingusan di buku diary nya yang bergambar Hello Kitty. Tidak ada hal megah dibaliknya. Tidak ada efek kejutan atau rasa ge-er, atau pencapaian ultimat sebagai suatu bangsa yang memiliki curiculum vitae sendiri –seperti negara lain. Yang ada justru perpanjangan tangan kolonialisme, bermotifkan budaya, ekonomi dan politik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ambil contoh budaya. Suatu keterikatan budaya, suatu identitas budaya tertentu harus mengacu kepada curiculum vitae diatas untuk disebut sebagai bagian dari budaya Indonesia. Identitas Budaya asli seperti Sunda, yang dilahirkan secara tradisional, alami, dan mistis –harus<span> </span>mengacu kepada budaya Indonesia, yang politis, rasional, dan terencana. Ketika semua pihak bersepakat untuk menyamakan konsepsi budaya yang bernama Indonesia itu, maka disanalah kita melihat benih-benih absurditas itu muncul. Apa persisnya budaya Indonesia itu? adakah produk budaya, ritual budaya, atau hasil pemikiran yang bisa disandarkan kata budaya Indonesia padanya? Jika budaya Indonesia sedang dalam masa pembentukan dari tanggal kelahirannya, siapakah yang menyusunnya? legitimasi MPR? kebijakan Eksekutif? hasil kesepakatan para elit? spontanitas masyarakat? atau budaya asing seperti MTV itu?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Indonesia sendiri adalah apa yang digariskan dalam dasar negaranya. Piagam Jakarta 1945, yang memuat lima butir kesepakatan pembentukan karakter suatu bangsa –ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dasar negara itu memperjelas posisi nasionalisme Indonesia dan manusia Indonesia didalamnya. Be Colonized, Decolonizer atau Being Colonizer, di ukur dari penghayatan dan pengamalan aspek dasar negara diatas. Tentang bagaimana suatu nasionalisme harus disangga oleh mereka yang kebanyakan inferior, memiliki sedikit relawan yang eksterior, dan dikendalikan oleh mereka yang superior.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Benar. Postkolonialisme lahir dari dekolonialisasi yang muncul di negara bangsa yang baru saja tumbuh berkembang. Dilahirkan dari kepahitan penjajahan. Lahir ketika sejarah identitas kultural bangsa itu terasingkan sekian lama, dengan pertanyaan kritis: Lepas dari penjajahan itu penting, tapi apakah harus berbentuk suatu negara-bangsa yang baru? Akhirnya apa yang tampak saat ini di Negara Indonesia adalah akumulasi dari postkolonialisme, baik dari campur tangan bangsa sendiri, atau meminjam tangan bangsa lain, sadar atau tidak, suka atau tidak, penting atau tidak, etis atau tidak, relevan atau tidak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<div>&lt;!&#8211;[if !supportEndnotes]&#8211;&gt;</div>
<hr size="1" />&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;</p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText">&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;<span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;<a name="_edn1" href="#_ednref1"></a>Bangsa Kuli. Kompas 28 Mei 2004:4</p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoEndnoteText">&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;<span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;<a name="_edn2" href="#_ednref2"></a>Mochtar Lubis dalam <em>Budaya, Masyarakat dan Manusia Indonesia </em>1992:242</p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoEndnoteText">&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;<span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;<a name="_edn3" href="#_ednref3"></a>Ibid :6</p>
</div>
<div id="edn4">
<p class="MsoEndnoteText">&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;<span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;<a name="_edn4" href="#_ednref4"></a>Ibid</p>
</div>
<div id="edn5">
<p class="MsoEndnoteText">&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;<span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;<a name="_edn5" href="#_ednref5"></a>Hannah Arendt <em>Asal-usul totalitarisme </em>1995:7-11</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riged.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riged.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riged.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riged.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riged.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riged.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riged.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riged.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riged.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riged.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riged.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riged.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riged.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riged.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=38&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riged.wordpress.com/2008/11/12/identitas-budaya-manusia-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f44ac7ca400a392236a29f75f03e67c5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rigedblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/indonesia_overview_map.gif?w=269" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia_overview_map</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Postkolonialisme dan Nasionalisme Indonesia</title>
		<link>http://riged.wordpress.com/2008/11/12/postkolonialisme/</link>
		<comments>http://riged.wordpress.com/2008/11/12/postkolonialisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 07:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rigedblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[Postcolonial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riged.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Teori Postkolonial Marry-Jane Collier seorang professor komunikasi dari Indiana State University dalam penelitiannya yang berjudul Researching Cultural Identity: Reconciling Interpretive and postcolonial Perspective menunjukkan bahwa untuk menjelaskan postkolonialisme digunakan kata “korban”, “kekuasaan”, dan “pembusukan identitas”.[i] “Postcolonial is regarded as the &#8230; <a href="http://riged.wordpress.com/2008/11/12/postkolonialisme/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=24&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/rom3.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-31" title="rom3" src="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/rom3.jpg?w=500" alt="rom3"   /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Teori Postkolonial</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Marry-Jane Collier seorang professor komunikasi dari Indiana State University dalam penelitiannya yang berjudul Researching Cultural Identity: Reconciling Interpretive and postcolonial Perspective menunjukkan bahwa untuk menjelaskan postkolonialisme digunakan kata “korban”, “kekuasaan”, dan “pembusukan identitas”.<a name="_ednref1" href="#_edn1"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[i]<span id="more-24"></span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Postcolonial is regarded as the need, in nations or group which have been victims of imperialism, to achieve an identity uncontamined by universalist or eurocentric (dalam penelitian ini: Barat) concepts and images”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">kegunaan teori ini sendiri menurutnya :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Make visible the ways in which oppression (Resistance) occurs and to help people “invent a shared image through which they could act to liberate themselves from imperialist oppression..”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sehingga ketika mengacu kepada pertanyaan apakah postkolonialisme itu semacam teori atau praktik? Maka pada awal kemunculannya, postkolonial dikategorikan sebagai perlawanan fisik dan mental, yang dipraktikkan dalam semangat untuk mengurangi aroma kolonial dalam pembentukan sebuah bangsa baru. Perlawanan reklames, melalui pemurnian ideologi yang tersusupi secara diam-diam oleh ideologi bangsa asing, penumbuhan sifat patriotis, dan menghindarkan diri dari jebakan postkolonialis yang dikampanyekan pada konsep demokrasi, good governance, liberalisasi, gaya hidup, berserta teks-teks yang menyertai item-item tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Akan halnya, selanjutnya postkolonialisme mendapatkan perhatian khusus sebagai alat akademis yang menemukan ruang dalam teori-teori antistrukturalis. Kegegabahan yang dekonstruktif itu –dengan kata lain apa boleh buat- <span> </span>sama dengan penemuan kembali batas antara elu-gua dalam kajian Timur dan Barat. Filsafat antistrukturalis mengejewantahkan segala yang mampir melaluinya sebagai eureka terbaru kado abad 21. Sifat tanpa batas ontologis yang meyakinkan dari proses dekontruksi berturut-turut dalam teks sejarah akademis, telah melahirkan apa yang disebut dengan teori postkolonial. Tidak berbeda dengan teori tentang ciuman, teori postkolonial diperkenalkan melalui studi-studi sastra oleh beberapa orang berkulit sedikit gelap seperti: Gayatri Spivak, Homi Khalid Bhaba, Edward William Said, dan Frantz Fanon.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Said, Bhaba, dan Spivak disebut-sebut sebagai &#8220;holy trinity of colonial discourse analysis&#8221;. Mereka bertigalah tokoh-tokoh sentral dalam studi ini. Mereka disebut juga sebagai &#8220;post-colonialist theory&#8221;, para teorisi penggugat kolonialisme. Mereka adalah para intelektual produk &#8220;dunia ketiga&#8221; yang bekerja dan berkarya dalam ruang lingkup studi<span> </span>literer universitas &#8220;dunia pertama&#8221;. Edward Said adalah orang Palestina dan Gayatri Spivak adalah orang India. Keduanya mengajar sastra Inggris dan sastra Perbandingan di Universitas Columbia. Homi K. Bhaba juga seorang India yang mengajar sastra Inggris di Universitas Sussex.<a name="_ednref2" href="#_edn2"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[ii]</span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Melalui penelusuran kembali identitas teritoris yang tercecer selama masa pendudukan, para teoritisi di atas mencoba menemukan akar –suatu sebab, suatu daya ingat, reposisi dan pembentukan kembali wibawa keilmuan mereka sendiri. Di bawah payung cultural studies, studi postkolonial terhimpun sebagai ramuan tentang resistensi terhadap kekuasaan. Ahmad Sahal mengutip Simon During dalam pengantar buku The Cultural Studies Reader (1993) menyebutnya:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Cultural studies jalur kedua, yang mendapat banyak pengaruh dari pemikiran poststrukturalisme Perancis, terutama Michel Foucault, menggeser perhatiannya dari kontra hegemoni dan resistensi<span> </span>terhadap kuasa &#8220;dari atas&#8221; menuju perayaan terhadap kemajemukan satuan-satuan kecil. Kebudayaan dilihat sebagai wacana pendisiplinan dan normalisasi, yang tidak tepat dihadapi dengan macro-politics karena relasi kuasa bukanlah melulu bersifat vertikal (negara versus masyarakat). Bagi Foucault, kekuasaan bersifat menyebar dan merata dalam setiap hubungan dalam masyarakat, dan karena itu hanya bisa dihadapi dengan semacam micro-politics, yang pernah dirumuskannya sebagai insurrection of the subjugated knowledges (membangkitkan pengetahuan-pengetahuan yang tertekan). Pada titik inilah cultural studies tegak berdiri. Kajian-kajian dengan label multikultural postkolonial, feminis, gay dan lesbian, etnik dan kulit berwarna, untuk menyebut beberapa yang menonjol, adalah upaya membangkitkan pengetahuan tertekan itu.<a name="_ednref3" href="#_edn3"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[iii]</span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tanpa harus berbasa-basi menunjukkan relasi antara cultural studies dengan postkolonial, kutipan di atas memang mencoba menunjukkan bahwa cultural studies membuka ruang disiplin bagi postkolonial. Mengembalikan kendali pada politik mikro di masyarakat sendiri, menumbuh tanamkan kesadaran dan sisi legalis pengetahuan asli kaum pribumi tentang sesuatu yang pantas atau tidak pantas untuk mereka. Dan hal semacam itu membentuk identitas kebangsaan yang sangat hybrid dan unik. Penemuan kembali identitas lampau –pasca relasi hegemoni, pemerintah, dan sejarah, bukan berarti kembali kepada kemurnian genealogis suatu bangsa. Tidak dengan perangkat pengetahuan yang bias Yunani kuno atau Jawa kuno dalam pemahaman suprasturuktur politik kebangsaan, tentang republik, atau demokrasi, atau aritokrasi, lebih-lebih feodalisme aneh yang pernah diujicobakan di Indonesia, namanya: asas tunggal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Postkolonialisme sebagai dekolonialisasi -sekali lagi bukan panasea dari langit untuk bebas memilih ideologi semudah belanja di Mall, untuk kemudian menjadi bangsa yang kuat dan sehat. Ada kecenderungan terbuka dalam membentuk identitas postkolonial yang benar, sifat proyektifnya sendiri telah dengan tegas menunjuk kepada warga negara –bahasa asyiknya kepala-kepala yang ada di suatu daerah tertentu, untuk berpikir sepadan dengan jaman yang berlaku pada mereka. Berikut juga dengan media-media yang bertebaran di sekeliling mereka, budaya massa, gaya hidup, internalisasi politik pemerintah, serta sejarah yang diajarkan kepada mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Kolonialisme dan Sejarah yang Goyah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebut saja. Pergolakan sejarah adalah pergolakan mengenai pertentangan dan perpaduan impian manusia melalui aksi yang aksidental dan terkadang satiris. Contohnya, kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte, pada abad 19 dan awal abad 20, seorang Sisilia yang bertubuh pendek itu tidak akan pernah menyangka bahwa pasukan “kecil” pimpinannya akan mengubah sebagian besar peta Eropa. Jauh beberapa abad sebelumnya dan sesudahnya. Perancis dikenal sebagai negara yang terkolonisasi beberapa kali oleh berbagai bangsa, seperti Romawi, Inggris, dan Jerman. Oleh karenanya rasa nasionalisme itu terbentuk setelah sekian ratus kampanye pertempuran berdarah.<a name="_ednref4" href="#_edn4"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[iv]</span><!--[endif]--></span></a> Dan propinsi lain adalah jajahan yang tidak memiliki akar sejarah yang pasti, –tidak ada nasionalisme yang harus diperjuangkan. Pada saat itulah nasionalisme untuk membebaskan berubah menjadi nasionalisme untuk mengekang, bahkan untuk bangsa sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Boulainvilliers berpendapat bahwa rekan-rekannya, kaum bangsawan tidak memiliki asal-usul yang sama dengan rakyat Perancis, memecah belah bangsa dan mencanangkan adanya pembedaan yang menyangkut asal-usul,”<a name="_ednref5" href="#_edn5"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[v]</span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada abad 21 ini, Perancis yang kita ketahui adalah Perancis dengan Paris sebagai kota mode tempat perancang busana terkenal Chanel, Dior, dan Yves Saint Laurent menetap. Tempat berlangsungnya Piala Super Eropa di Stade Louis Monaco. Tempat heroisme tentara sekutu yang mendarat di pantai Normandia. Dan terlupakan bahwa Perancis masih aktif memainkan politik kolonialisme yang diwariskan semenjak berabad-abad lalu, sekaligus menjadi bagian dari bangsa yang terkolonisasi oleh bangsa pembebasnya pada saat perang dunia II: Amerika Serikat. Tapi siapa yang tahu? Semuanya lupa. Perancis terlalu gemerlap, atau memang sejarah tidak diajarkan –sengaja?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Contoh tersebut menggambarkan betapa sejarah tidak melulu heroik melainkan terselip beberapa antagonisme yang kadang tenggelam dari catatan. Sejarah memang sulit dipercaya, keterikatan sejarah, pelaku sejarah, dengan para pembaca sejarah, terkadang dipisahkan oleh realitas-realitas yang senjang, misalnya bahasa. Sejarah dapat hadir dalam bentuk catatan romantis dan puitis, dan gambaran didalamnya tentu saja harus damai dan indah-indah. Penuh dengan dongengan mengenai kejahatan versus kebaikan tanpa melihat apa yang terjadi secara obyektif. Sebagai ilustrasi kecil, catatan sejarah mengenai perang dunia II tentu dipenuhi dengan heroisme pihak pemenang perang (dalam hal ini sekutu), ribuan orang tentara Amerika Serikat yang mati digambarkan sebagai pahlawan, namun jutaan rakyat Jepang yang mati di Okinawa, Saipan, Hiroshima dan Nagasaki hadir sebaliknya. Begitu pula nasib para prajurit Italia atau Jerman didalam catatan sejarah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Distortifkah? Mungkin lebih tepat “ambigu” mengutip Foucault, bahwa relasi kekuasaaan lebih mendasari terbitnya sejarah. Selera penguasa pada sejarah itulah yang akan didapatkan pembaca sejarah. Faktor lainnya ialah kepentingan yang relatif satu kamar dengan kekuasaan. Dan kepentingan ini hadir lebih disengaja dari bahasa. Luka lama atau kecacatan suatu bangsa tentu tidak mudah terkuak dan dijelaskan melalui catatan sejarah secara telanjang bulat sebulat-bulatnya. Bangsa tersebut secara kolektif menyepakati rumusan sejarah yang “disesuaikan” dan hadir dalam bentuk kompromis serta tidak memalukan. Namun kejanggalan-kejanggalan akan tetap terbawa didalamnya. Maksud saya, siapa yang menjamin gosip bahwa Perang Teluk 1990-1994 muncul bukan karena kecentilan Saddam terhadap Kuwait. melainkan dikarenakan keengganan Amerika Serikat untuk memusnahkan produk senjata yang telah mereka buat selama perang dingin.<a name="_ednref6" href="#_edn6"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[vi]</span><!--[endif]--></span></a> Amerika Serikat menjual senjata tersebut dan mengobarkan perang demi meraih keuntungan. Maka kembali cacatlah catatan sejarah, dan sedikit yang mau tahu kebusukan “kepentingan” yang mengobok-obok sejarah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Sejak perang dunia ke-1 para sejarawan Amerika menawarkan kepada presiden Wodrow Wilson untuk menjalankan tugas yang mereka namakan ‘penukangan sejarah’ (Historical enginering) Yang mereka maksudkan ialah bagaimana mendesain fakta-fakta sejarah&#8230;pada tahun 1921 wartawan Amerika terkenal Walter Lippmann, yang mengatakan bahwa seni demokrasi menuntut apa yang disebutnya ‘pabrik kesepakatan’, istilah ini merupakan euphemisme Orwell untuk istilah ‘pengendalian pemikiran’&#8230;”<a name="_ednref7" href="#_edn7"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[vii]</span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penukangan sejarah, pabrik kesepakatan, juga pengendalian pemikiran merupakan konotasi bagus dari alat-alat kelengkapan postkolonialisme. Sejarah di hapus, sejarah di perbaiki, sejarah di rekayasa. Sebagai landasan utama munculnya rasa nasionalisme dan kebangsaan, menghapus akar sejarah suatu bangsa yang torkolonisasi, akan menjadikan bangsa itu kehilangan identitas kultural postkolonial yang otentik. Efeknya merasuk kedalam manusianya. Penukangan yang salah terhadap sejarah bangsa sendiri, melebarkan jarak kesepahaman rasa nasionalisme kepada generasi pelanjut. <span> </span></p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn1" href="#_ednref1"></a><span lang="SQ">Coulier, Mary-Jane et.al<span> </span><em>Cultural Methodologies </em><span> </span>1998:122</span></p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn2" href="#_ednref2"></a>Luna Lazuardi, “Studi Kolonialisme” Newsletter KUNCI No. 3, November 1999 dalam Http://www.kunci.or.id</p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn3" href="#_ednref3"></a>Ahmad Sahal, &#8220;<em>Cultural Studies </em>dan Tersingkirnya Estetika”, , 2 Juni 2000, Kompas Cyber Media. Http//www.kompas.co.id.</p>
</div>
<div id="edn4">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn4" href="#_ednref4"></a>Bahkan ada pendapat bahwa bangsa Perancis hanya lahir dari Friesland.<span lang="SQ"> Friesland, Ile de France, Navarre, Lorraine, Burgundy, Aqueitanne, Franconia, Normandia, Brittany, Anjou, Toulose adalah beberapa Propinsi dari Perancis yang memiliki akar sejarah tersendiri. Dengan berbagai bangsa, seperti Franks, Briton, Burgundy, dan Gaul. Dari abad 10-15 kekusaan Perancis hanyalah sebagian kecil propinsi. Navarre di kuasai Basque kini oleh Kerajaan Spanyol, Aqueitanne dan Brittany oleh Inggris, Lorraine dan Franconia oleh orang-orang Teuton. Burgundy oleh Duke of Burgundy sendiri. (Medieval Total War Text by Creative Assembling, op cit. Hannah Arendt:75-81.</span></p>
</div>
<div id="edn5">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn5" href="#_ednref5"></a>Ibid</p>
</div>
<div id="edn6">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn6" href="#_ednref6"></a>Z.A Maulani <em>Mengapa Barat Memfitnah Islam </em><span> </span>2002.:150-151</p>
</div>
<div id="edn7">
<p class="MsoEndnoteText"><!--[if !supportLists]--><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><a name="_edn7" href="#_ednref7"></a>Ibid</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riged.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riged.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riged.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riged.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riged.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riged.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riged.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riged.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riged.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riged.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riged.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riged.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riged.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riged.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=24&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riged.wordpress.com/2008/11/12/postkolonialisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f44ac7ca400a392236a29f75f03e67c5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rigedblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/rom3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rom3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memandang Jauh Menerka Awan</title>
		<link>http://riged.wordpress.com/2008/11/10/memandang-jauh-menerka-awan/</link>
		<comments>http://riged.wordpress.com/2008/11/10/memandang-jauh-menerka-awan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 10:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rigedblue</dc:creator>
				<category><![CDATA[Popculture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riged.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Penulis menyukai J-pop (barangkali), semenjak Mayumi Itsuwa menyanyikan lagu Right Combination bareng Donnie Walhberg, yang waktu itu masih eksis dengan boysband New Kid on the Block. Band itu icon pop barat -setidaknya di Indonesia. Yup, tahun 90-an penulis menjalani masa &#8230; <a href="http://riged.wordpress.com/2008/11/10/memandang-jauh-menerka-awan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=10&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis menyukai J-pop (barangkali), semenjak Mayumi Itsuwa menyanyikan lagu <em>Right Combination </em>bareng Donnie Walhberg, yang waktu itu masih eksis dengan boysband New Kid on the Block. Band itu icon pop barat -setidaknya di Indonesia. Yup, tahun 90-an penulis menjalani masa remaja. Dikhianati oleh PPKN dan PSPB di Sekolah, dibisingkan dengan pembangunan besar-besaran di kiri-kanan jalan raya. Trotoar dipenuhi coretan, bungkus boat, dan darah kering bekas tawuran. Masa itu masanya penyeragaman, berpikir beda sama teman-teman tongkrongan kamu artinya kamu siap tersisih. Nggak ada demokrasi di jalanan, di politik ada hegemoni Baba Ato, di Musik ada si Cobain dengan grunge-nya, di film ada Ryan Hidayat &amp; Nike Ardilla. Everything so fuckin flat and anonymous. So penulis memilih menyisih diri, dan berlindung kepada Utada Hikaru atas segala ketidak kawaiian itu. Berhasilkah?<span id="more-10"></span></p>
<p><a href="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/against.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-22" title="against" src="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/against.jpg?w=500" alt="against"   /></a>Smell&#8217;s like fuckin shit spirit, menyisih artinya mati, penulis kembali ke kerangkeng membiasakan diri dengan Stone Temple Pilot, Bush, Soundgarden, the President of USA, Weezer (ok kalo Weezer n Pumpkins keren), dan harus ikut komentar ketika pertengahan April 96 Cobain bunuh diri. Bunuh diri dia jadi wacana di kelas selama  berminggu-minggu. Ini simulakra-nya Baudrillad, kematian icon sebagai agen akan menggoyang struktur dan subyek. Padahal pada saat bersamaan, 2 juta orang mati saling bunuh di Rwanda, antara Tutsi dan Hutu, tapi posisi mereka kurang keren, jadinya biasa saja.</p>
<p>Di sekolah kami ditumbuhkan untuk mati rasa dan tidak jeli. Dalam bahasa Jacques Derrida, kami terjebak dalam logosentrisme akut: Memahami ilmu sebagai bagian yang sudah jadi (tidak usah banyak tanya lagi), memahami bapak dan ibu guru sebagai considerator (when you&#8217;re hurts you need bandage), orang tua sebagai disinfektan (aku luka, aku pulang), hanya bersama teman saja sedikit harapan barangkali akan terbuka. Meskipun itu berlebihan, karena kami tidak pernah saling menyemangati, sama-sama sebagai penonton dalam parade. Ternyata tidak ada manual untuk menjadi bodoh, cukup menjalani hari-hari yang biasa dan seadanya di negeriku Indonesia.</p>
<p>Begini rasanya diketeki oleh orang-orang dewasa. Ah tentu saja mereka punya agenda sendiri untuk anak-anak mereka, untuk kebahagiaan anaklah mereka berani memutuskan korupsi.  Ya tapi, jiwa anak-anak itu ikut dikorupsi, tersungkur dilembah gagdet, materialisme, dan kesalahan berpikir. Dari awalnya para pemuda itu tumbuh di dalam kotak bermerk sendiri-sendiri dan tidak peduli dengan isinya, tidak heran tidak ada yang menjadi bagian dari penyelesaian, semua tumbuh menjadi bagian dari masalah. Yang PKS, Evangelist, Punk, Priyayi, Suburban, Ekspat, Santri, Wimpy, dan Kiri berlomba ingin berdiri di pucuk piramida makan-memakan. Estetika, seni, budaya, ekonomi anjir! dipolitisir!</p>
<p>Anak-anak muda itu membahasakan ruang dan waktu sebagai snob dan noir. Petulangan raksasa yang sebenarnya hilang kuasa untuk bicara. Menilik bahasa Radhar Panca Dahana, mereka mencintai sensasi materialisme -dan rela meregang nyawa untuk sekedar eksis dengan bahasa tubuhnya. 20 orang pemuda mati menenggak arak buatan demi sensasi berontak, di sisi lain 3 orang pemuda mati di regu tembak, agar merasakan sensasi jihad. Tak ada ekstensi diri dalam ruang snob dan noir macam itu. Tak ada tanda baca pada pembacaan kisahnya. Tapi keukeuh masih dibacakan juga demi timeslot yang tersedia. Yang membuat ngeri masih mengantrii puluhan ribu muda-mudi Indonesia untuk mati konyol dengan pelbagai genrenya demi para elit yang sesat.</p>
<p>Keh. Stop ngomelnya. Yang terjadi terjadilah. Selagi ini dituliskan. Osama masih hidup (kayaknya), Obama baru terpilih jadi presiden the States, Olala masih berbentuk kafe dengan croissant yang lezat, dan O my god masih jadi catchphrase yang penting diucapkan dikala senggang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riged.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riged.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riged.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riged.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/riged.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/riged.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/riged.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/riged.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riged.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riged.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riged.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riged.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riged.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riged.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riged.wordpress.com&amp;blog=5456418&amp;post=10&amp;subd=riged&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riged.wordpress.com/2008/11/10/memandang-jauh-menerka-awan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f44ac7ca400a392236a29f75f03e67c5?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">rigedblue</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://riged.files.wordpress.com/2008/11/against.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">against</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
