Suatu ketika, kita tidak mengenal budaya seperti apa yang tampak sebelumnya. Kita tahu bola itu ditendang-tendang dari kaki ke kaki di lapangan rumput belakang kelurahan. Yang belum kita tahu adalah sesuatu itu disebut sepak bola sebelumnya. Kita mempelajari “budaya sepak bola”, perlahan dan kemudian kita tidak tahu lagi dimana posisi kita dalam budaya “raksasa” itu. Perhatikanlah sepakbola: Aturan permainannya, ada wasit, hakim garis, gol, pelanggaran, kartu merah, taktik, pelatih, pemain, penonton, tim medis, satuan pengamanan, tribun VIP, komentator, nilai transfer, hak siar, siaran langsung, siaran tunda, stadion, roteiro, fevernova, FIFA, Piala Dunia, kehormatan bangsa, adu penalti, gol emas, babak tambahan, injury time, cedera hamstring, achiles tendon, liga nasional, divisi satu, tulang metarsal, enam minggu pemulihan, selebritis lapangan, seratus persen fit, penyerang tunggal, gelandang bertahan, bek sayap, skill individu, influence, passing, rotasi pemain, set pieces, freekick, human wall, supersub, umpan lambung, tendangan chip in, Qitas, dan ratusan istilah lain yang berkaitan dengan permainan itu. Membuat kita tersesat entah dimana dalam permainan simbol-simbol sepak bola.
Olahraga adalah suatu produk budaya. Sepak bola salah satunya. Sesuatu yang sederhana bisa me-raksasa dan menjadikan manusia –bahkan milliyaran manusia sejenak terpaku. Dimana? dimana lagi kalau bukan di televisi. Dan di perpanjang oleh media lainnya. Televisi hanya menyajikan permainannya, pembahasan startegi, taktik, simulasi, semuanya dirangkum oleh media massa lain: koran, tabloid, internet, postcard, majalah, bahkan game. Kini, dengan bantuan media –bukan sepakbolanya yang menarik untuk dimainkan, tapi hal-hal selainnya yang sebenarnya bukan bagian dari esensi permainan sepak bola. Apa yang hendak penulis maksudkan? Media massa.
Media massa membuat wilayah periferal menjadi penting. Dengan kemampuan memanipulasi, dan kedekatan dengan khalayaknya, media menjadikan hal yang tidak esensial menjadi lebih penting dari esensi, dan layak untuk dikonsumsi. Sepak bola bukan sepak bola lagi, tapi sesuatu yang berkaitan dengannya. Musik bukan musik lagi, tapi sesuatu yang berhubungan dengan musik, politik bukan politik lagi tapi sesuatu yang berhubungan dengan politik, agama bukan agama lagi, tapi sesuatu yang berkaitan dengan agama. Ini yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai hiperrealitas obyek. Semuanya di konsumsi –diembat.
“Dengan demikian permainan tanda yang berpotensi menjadi tidak terbatas dilembagakan…memberikan pada individu rasa kebebasan yang ilusif.”[i]
Untuk tujuan apa? Ya pemenuhan hasrat. Karena ini mengacu dengan benda atau obyek. Ingat ini adalah produk budaya massa, yang tidak sakral lagi dan tidak butuh pembakaran kemenyan untuknya. Lebih dari itu, obyek dan tanda itu semakin dirasakan penting.
“…Pelembagaan tersebut menata masyarakat…Baudrillard percaya bahwa melalui obyeklah individu menemukan posisinya dalam tatanan. Dengan demikian fungsi komoditas lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan individu, tetapi juga menghubungkan individu dengan tatanan sosial.” [ii]
Betapa galaknya pernyataan di atas. Status dan identitas sosial manusia tergantung atas obyek yang dikonsumsinya. Itulah alasannya mengapa khalayak sulit melepaskan diri dari media massa. Selagi media itu masih menyajikan obyek-obyek yang akan menjadi landasannya untuk “gaul” atau “eksis” media massa tidak akan pernah ditinggalkan. Dan media pun tidak bodoh untuk tidak melakukan covering terhadap obyek yang dimaksud –meskipun itu mengabaikan esensi. Jalinan chaotik itu membuka jalan bagi masuknya hal-hal baru. Tidak ada lagi kontrol dan filter untuk media –bukankah institusi kontrol dan filter pun menjadi bagian dari kerumitan. Ditambah kalimat bernada menyerah seperti ini: “Pertebal keimanan putra-putri kita dari tayangan yang merusak.” Semakin menyerah lagi: “Ambil yang baik dan buang yang buruk.” Dan hancur di balik kalimat ini: “Sudahkah anda membayar iuran televisi.”
Meminjam bahasa John Storey kerumitan itu sudah tidak rumit lagi. Semuanya jelas –mengabur, wong hiperrealitas dan simulatif. Dan hubungan antara obyek, media massa dan manusia sudah tersusun skrenarionya:
“Wah mirip Disneyland..” [iii]
Ya, jelas mirip Disneyland. Baudrillard sendiri memberikan anggapan tentang Disneyland, ia menyebutnya sebagai “contoh sempurna dari semua yang berasal dari aturan-aturan simulasi.”[iv] Media memiliki jalan pikiran tersendiri untuk merumuskan keberadaannya di masyarakat. Media memilihi tokoh sendiri, pahlawan, politik, penjahat, korban, perang, ekonomi dan hal-hal makrokospik yang dihadapi negara-negara besar dewasa ini. Yang menakjubkan media memiliki spot time yang lebih banyak dari para pejabat-pejabat politik di suatu negara, lebih akrab dari para orator-orator kampanye –dan disadari atau tidak, justru media telah mengusai ruang operasi politik kebangsaan suatu negara, termasuk dalam hal-hal remeh seperti menyanyinya presiden terpilih Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada acara AFI 2, Buset.
Media massa tidak lain telah menjadi bagian penting dari peletakan dasar-dasar postkolonialisme anti dekolonialisasi, penyebaran gagasannya, perluasan ruang lingkupnya, dan penambahan makna serta imbuhan dibaliknya. Ketika media membicarakan posisinya sebagai negara ke empat, fungsi anjing penjaga, elemen aktif demokratisasi. Tentunya kita membicarakan ideologi negara sebagai piranti vis a vis media, demi debat publik, demi demokratisasi dan liberalisasi, demi kemakmuran negara dan daya beli masyarakat yang tinggi. Tidak ada yang hebat dari deretan kalimat itu kecuali kapitalisme terselubung dari media massa, yang putaran utamanya dari Barat.
Seperti menjamin para pemilik media massa bersantai dengan para gadis ranum di kubangan jacuzzi, mengangkat-angkat gelas bersama politikus disebelahnya, dan bicara tentang masa depan nasionalisme suatu bangsa. Kehadiran media massa dan penerimaan masyarakat pada model begitu, kian mencabut akar kemerdekaan suatu bangsa ketika mereka merumuskannya. Independensi beririsan dengan tingkat tiras atawa rating, berita buruk adalah yang paling laku, dan media bermuka pop, untuk remajanya media yang –kebangetan boysbands merajalela.
Ini sering digambarkan sebagai dilemanya negara dunia ketiga[v]. Nah lho. Julukan yang entah darimana juntrungannya kok disalahkan. Dunia ketiga, seketat apapun penelitian dan pengukuhan akademis terhadap istilah itu. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan cita-cita suatu bangsa untuk berdaulat diatas kaki sendiri, merumuskan budayanya secara mandiri, mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, menggantikan jeans Austin Texas dengan sarung Magelang, boot Manchester dengan selop dari Cibaduyut, pet bergambar Newyork Yankees dengan caping buatan Tanah Abang
Menyembunyikan diri dalam stereotip para orientalis tentang kebangsaan dan luas wilayah suatu negara. Sama saja dengan mendengarkan ocehan mereka tentang bangsa jajahan yang dari sononya savage (liar). Lalu menyembunyikannya dibalik kemegahan istilah akulturasi dan invensi, bentukan hibrid suatu bangsa adalah yang paling benar. Setidaknya begitulah media memberitahukannya kepada kita.
5. Dilema Negara dunia ketiga. Pemaksaan simbolik suatu Negara terhadap Negara lain berdasarkan income perkapita, tingkat pertumbuhan ekonomi, taraf hidup rakyatnya, pendidikan dan kemampuan teknologi Negara tersebut. Sehingga Negara tersebut layak untuk diawasi secara finansial oleh kebijakan moneter Perserikatan Bangsa-Bangsa, keberlangsungan politik pemerintahannya di awasi untuk mencapai kondisi yang disebut dengan Good Governance. Sentimen ini berawal dari keterputusan jarak dan sejarah para pelancong Eropa ke negeri-negeri timur, kesulitan untuk beradaptasi dengan sifat ketimuran yang lebih mistis dibanding Eropa yang mekanis, membuat mereka menginginkan tempat indah dan eksotis semacam timur itu semakin diperindah dengan mengadopsi budaya Eropa –lihat Orientalisme, Edward W. Said 1978:1-7.
6.