Agama Abad 21: Akhir dari Kemanusiaan

Postmodern Belum Selesai

duncanlong40Jika anda ucapkan judul diatas kepada Marylin Monroe tentunya dia akan segera membukakan bra-nya. Karena terkejut atas kata-kata yang dihuni secara semiotik oleh jiwa kejut. itu Ultimasi kata postmodernisme terkadang menjebak sebagian orang untuk bergegas-gegas ria, melakukan selebrasi dini sampai kaca pecah, pintu rubuh, sepeda tidak berpentil, dan jemuran lupa di angkat – hal-hal yang secara keseharian penting dilupakan sejenak. Perhatian dipusatkan pada ruang dan waktu yang sangat imajinatif, artifisial dan begitulah kebanyakan sejarah dibentuk. Revolusi posmo adalah ruh zaman (zeitgeist) yang bentuknya paling rumit dan menggemaskan. Kedatangannya tidak pernah sempurna dan sesuai dengan cetak biru pembuatannya. Seperti membikin rumah bordil dekat rumah ibadah, pertentangan tidak akan habis –keuntungan dari pertentangan itu tidak seberapa.

Jika sejarah dipandang sebagai simplifikasi kategoris kepada pihak menang dan kalah. Maka sejarah telah gagal memberi kerangka masa depan yang melibatkan semua pihak terkait. Dalam bahasa William Shakespeare :

“Kenyataan di bumi dan langit lebih luas dari mimpi-mimpi filosofis kita.”

Atheis Bersorban vs Atheis Berdasi vs Atheis Bertoga

Walau pada kenyataannya dunia manusia lebih sempit dari bumi dan langit yang menampungnya. Maka sungguh bedebah orang yang memperkenalkan riwayat idealisme ke dunia manusia yang sempit ini. Memaksakan orang untuk bangun pagi dan merasai sebentuk mimpi filosofis. Menakdirkan renjana, cangkir, mangkuk, dan deposito sebagai bentuk in absentia yang dimitoskan (padahal benda-benda itu nyata). Dunia menjadi simulacra, orang semakin tidak nyaman bicara tanpa mengutip, menyisip, atau meminta sirap dari hal-hal yang serba dekat dengan dirinya -seperti Tuhan misalnya. Di abad-21 proses itu berubah sontak menjadi lelucon yang tidak lucu. Bak Pepatah gajah dan semut. Gajah tidak tampak dipelupuk mata, karena sejak awal dia diposisikan menindih kita sampai kita tewas, sementara sang semut semakin tidak merasa penting dia dilihat atau tidak (wong semut kok). Agama sebagai sesuatu yang di gajahkan dalam pepatah di atas. Sudah tidak bisa lagi menampung “Ketuhanan” sebagaimana adanya atau sebagaimana seharusnya.: intim  dan penuh cinta. Agama para manusia, lebih termanipulasi ada bentuk agamanya dan bukan manusianya. Richad Dawkins menamai gejala ini sebagai atheisme juga. Atheisme ini mengadopsi pandangan tentang rencana elit agama, memisahkan sign dari signifier-nya, memisahkan ritus dengan esensi, menjadikan icon tanpa konteks, sejatinya agama tidak ada beda dengan korek api bekas pakai. Hal yang meneguhkan “keatheisan” Dawkins dan pilihan untuk menunggu penjelasan lebih tepat tentang situasi manusia tanpa melibatkan Tuhan, adalah sebentuk kritik yang harus dicermati. Pertarungan ideologi di abad 21 ini ternyata mengetengahkan lakon konyol Atheis Bersorban vs Atheis Berdasi vs Atheis Bertoga.

Leave a Comment

Filed under Postmodernism

Memandang Jauh Menerka Awan

Penulis menyukai J-pop (barangkali), semenjak Mayumi Itsuwa menyanyikan lagu Right Combination bareng Donnie Walhberg, yang waktu itu masih eksis dengan boysband New Kid on the Block. Band itu icon pop barat -setidaknya di Indonesia. Yup, tahun 90-an penulis menjalani masa remaja. Dikhianati oleh PPKN dan PSPB di Sekolah, dibisingkan dengan pembangunan besar-besaran di kiri-kanan jalan raya. Trotoar dipenuhi coretan, bungkus boat, dan darah kering bekas tawuran. Masa itu masanya penyeragaman, berpikir beda sama teman-teman tongkrongan kamu artinya kamu siap tersisih. Nggak ada demokrasi di jalanan, di politik ada hegemoni Baba Ato, di Musik ada si Cobain dengan grunge-nya, di film ada Ryan Hidayat & Nike Ardilla. Everything so fuckin flat and anonymous. So penulis memilih menyisih diri, dan berlindung kepada Utada Hikaru atas segala ketidak kawaiian itu. Berhasilkah? Continue reading

Leave a Comment

Filed under Popculture

Audisi ++ Graduation

Ada sedih, dan ada senang. Di dunia pop Jepang. Sedih lebih didahulukan dibanding kesenangan. Ini omongan sia-sia yang tak ada bukti jelas. Di TV wajah para bintang boleh jadi menangis, hatinya siapa tahu. Tapi dunia pop Jepang punya sesuatu yang ingin beda. Untuk mereka konsep belakang dan depan panggung hanya nama, on air atau off air akan selalu entertain.

Kimura Ayaka, vokalis Coconut Musume, pernah bikin konsep di Hello Morning. ‘English Suprise Lessons’, formatnya gampang. Kageti setiap anggota Hello!Morning (TV-Tokyo), pada saat off air dan berikan pelajaran bahasa Inggris dadakan. Para korban mau tidak mau harus mau tampil tanpa konsep, dan menjadi dirinya sendiri. Sehingga pernah, kali ini Ayaka menjadi korban, Tsuji Nozomi vokalis W, pernah menjebak Ayaka ketika sedang berbincang serius dengan produser-nya. Tsuji dengan menculik seorang kameramen membuat konsep khusus untuk Ayaka, ‘Nono Dance Lessons’. Ayaka diminta berdansa mengikuti tari Ondo yang kocak. Ayaka tidak siap tapi apa boleh buat.

Yang lebih ganjil, Okamura Takashi, komedian pengisi TV Komedi Mecha-mecha Ikiteru. Dalam salah satu episode Mecha-mecha Ikiteru edisi Natal, mereka berkomplot dengan produser Morning Musume, Tsunku untuk menjebak setiap anggota Morning Musume, IKUT UJIAN SEKOLAH (tingkatnya SMU), dan menentukan siapa Anggota Morning Musume yang paling idiot (Bakajo Kimatsu Test). Mereka dijebak dalam plot hendak diikutkan dalam acara promosi produk Quidam. Tapi mengutip Okamura yang berperan sebagai guru killer.

“QUIDAM tidak akan datang. Quidam punya jalan sendiri! Lupakan Quidam.”  Yup Quidam tidak pernah datang. Mereka digiring dalam ruang tunggu yang mirip kelas. Dipaksa memakai baju sekolah. Dan dilarang untuk menangis.

Mau tak mau. Setiap anggota Momusu yang kebingungan, jadi tetap bingung sampai acara selesai. Dalam acara itu. Konno Asami menjadi anggota Momusu yang paling pintar. Sementara ratu Idiot disematkan kepada Tsuji Nozomi. Sial untuk Tsuji. Selamanya dia dikenal di antara generasi Momusu, menjadi anggota paling bodoh.

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Media Masssa dan Postkolonial

baud_posterSuatu ketika, kita tidak mengenal budaya seperti apa yang tampak sebelumnya. Kita tahu bola itu ditendang-tendang dari kaki ke kaki di lapangan rumput belakang kelurahan. Yang belum kita tahu adalah sesuatu itu disebut sepak bola sebelumnya. Kita mempelajari “budaya sepak bola”, perlahan dan kemudian kita tidak tahu lagi dimana posisi kita dalam budaya “raksasa” itu. Perhatikanlah sepakbola: Aturan permainannya, ada wasit, hakim garis, gol, pelanggaran, kartu merah, taktik, pelatih, pemain, penonton, tim medis, satuan pengamanan, tribun VIP, komentator, nilai transfer, hak siar, siaran langsung, siaran tunda, stadion, roteiro, fevernova, FIFA, Piala Dunia, kehormatan bangsa, adu penalti, gol emas, babak tambahan, injury time, cedera hamstring, achiles tendon, liga nasional, divisi satu, tulang metarsal, enam minggu pemulihan, selebritis lapangan, seratus persen fit, penyerang tunggal, gelandang bertahan, bek sayap, skill individu, influence, passing, rotasi pemain, set pieces, freekick, human wall, supersub, umpan lambung, tendangan chip in, Qitas, dan ratusan istilah lain yang berkaitan dengan permainan itu. Membuat kita tersesat entah dimana dalam permainan simbol-simbol sepak bola. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Postcolonial

Identitas Budaya Manusia Indonesia

indonesia_overview_map

Perang dunia kedua bukan hanya menyediakan keruntuhan dari kolonialisme. Tetapi kenyataan bahwa reruntuhannya ikut menimpa dan merusak para pribumi yang terkoloni. Mereka menjerit. Sampai sekarang pun mereka masih menjerit. Bekerja dengan rintihan, beranak-pinak dengan keluhan, membuat pemilu dengan cemoohan, mengangkat presiden dengan gerutu, terkena krisis ekonomi dan kembali menjerit. Untuk selanjutnya ucapan yang benar yang tidak sekadar rintihan di negara bekas jajahan kepada negara bekas penjajah adalah protes, kritik, dan menuntut –lagipula kalau tidak salah ketiga frase itu mengandung emosi: Marah. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Postcolonial

Postkolonialisme dan Nasionalisme Indonesia

rom3

Teori Postkolonial

Marry-Jane Collier seorang professor komunikasi dari Indiana State University dalam penelitiannya yang berjudul Researching Cultural Identity: Reconciling Interpretive and postcolonial Perspective menunjukkan bahwa untuk menjelaskan postkolonialisme digunakan kata “korban”, “kekuasaan”, dan “pembusukan identitas”.[i] Continue reading

Leave a Comment

Filed under Postcolonial